Budidaya belut (Monopterus albus) semakin diminati karena permintaan pasar yang stabil dan harga jual yang kompetitif. Dua metode yang paling banyak dipraktikkan skala rumahan hingga semi-komersial adalah menggunakan drum dan kolam terpal. Kendati sama-sama bisa menguntungkan, keduanya punya karakter teknis, biaya, dan tingkat risiko yang berbeda dan perlu dipahami sebelum memulai.

Perbedaan Media dan Konstruksi

Drum umumnya memakai drum plastik atau besi bervolume 200 liter yang dipotong bagian atasnya. Media lumpur diisi setinggi 30–40 cm dengan campuran tanah, pupuk kandang matang, dan air fermentasi. Drum cocok untuk lahan sempit, bisa ditumpuk, dan mudah dipindah. Kolam terpal dibuat dari rangka bambu atau besi ringan dengan ukuran lazim 2x3 meter hingga 3x5 meter, lalu dilapisi terpal HDPE/PE. Kedalaman media lumpur 40–60 cm, lebih luas sehingga suhu dan kualitas air lebih stabil dibanding drum.

Kepadatan Tebar dan Manajemen Air

Perbedaan paling kentara ada pada daya tampung. Drum 200 liter idealnya diisi 50–80 ekor benih ukuran 8–10 cm, sedangkan kolam terpal 2x3 meter mampu menampung 1.500–2.000 ekor pada ketinggian air 15–20 cm di atas lumpur. Pada drum, pergantian air harus lebih sering, sekitar 20–30% volume setiap 3–5 hari, karena volume kecil cepat jenuh amonia. Kolam terpal cukup diganti 20–30% setiap 7–10 hari.

  • Drum: aerasi wajib, misalnya aerator mini atau pancuran sirkulasi.
  • Kolam terpal: aerasi dianjurkan, terutama saat musim hujan atau cuaca mendung.
  • pH ideal 6,5–7,5; suhu 25–30°C; amonia di bawah 0,1 mg/L.

Pakan, Panen, dan Tingkat Risiko

Di kedua sistem, pakan berupa cacing sutra, keong mas cacah, ikan rucah, dan pelet apung halus diberikan 3–5% dari bobot biomassa per hari. Pada drum, pemberian pakan harus lebih hati-hati karena sisa pakan cepat membusuk di ruang sempit. Belut bisa dipanen bertahap mulai 3–4 bulan ketika bobot mencapai 100–150 gram per ekor. Risiko drum adalah fluktuasi suhu ekstrem dan kematian massal jika listrik aerator mati; risiko kolam terpal adalah kebocoran dan hama seperti ular atau tikus yang lebih mudah masuk area terbuka.

Biaya dan Skala Keuntungan

Modal drum lebih murah, sekitar Rp150.000–Rp300.000 per unit siap pakai, tetapi hasil per unit terbatas. Kolam terpal 2x3 meter membutuhkan Rp800.000–Rp1,5 juta termasuk rangka dan terpal, namun menghasilkan panen 15–25 kg per siklus. Untuk pemula dengan lahan sempit, drum adalah langkah uji coba yang efisien; untuk target produksi rutin, kolam terpal lebih ekonomis per kilogram hasil.

Kesimpulannya, drum unggul untuk skala kecil, mobilitas, dan kontrol ketat di ruang terbatas, sementara kolam terpal lebih tepat untuk produksi yang lebih besar dengan stabilitas lingkungan lebih baik. Pilihan terbaik bergantung pada lahan, modal, dan target panen—dan keduanya tetap menuntut disiplin dalam menjaga kualitas air serta pakan.