Drum bekas menjadi wadah budidaya belut paling populer karena murah, kuat, dan mudah ditemukan di bengkel atau toko bahan kimia. Namun tidak semua drum layak dipakai; drum bekas oli, pestisida, atau pelarut kimia bisa meninggalkan residu yang mematikan benih belut. Memilih drum yang tepat adalah langkah pertama yang menentukan apakah budidaya Anda berjalan lancar atau gagal total di minggu pertama.
Kenali Asal-Usul Drum Sebelum Membeli
Prioritaskan drum bekas yang sebelumnya berisi bahan food grade seperti molase, gliserin, minyak goreng, atau air mineral. Drum bekas oli dan solar masih bisa dipakai, tetapi wajib melalui proses dekontaminasi ketat. Hindari drum bekas bahan kimia keras seperti thinner, formaldehida, atau pestisida karena residunya sulit hilang meski dicuci berulang kali.
Ciri fisik drum yang sehat: tidak berbau menyengat, bagian dalam tidak berlendir, dan tidak ada lapisan kerak tebal. Harga drum bekas 200 liter di pasaran berkisar Rp150.000–Rp350.000, tergantung kondisi dan wilayah.
Langkah Wajib Membersihkan Drum Bekas
Drum bekas oli atau pelumas tidak boleh langsung dipakai. Ikuti urutan berikut:
- Kuras sisa cairan, lalu bilas dengan air bersih 2–3 kali.
- Isi drum dengan air hingga penuh, tambahkan 1 kg abu sekam atau 500 gram soda ash, aduk rata, diamkan 2–3 hari.
- Buang air, sikat dinding dalam dengan sabun cuci piring dan spons kasar.
- Bilas dengan air bersih, lalu jemur terbalik di bawah sinar matahari selama 3–5 hari sampai bau hilang total.
- Untuk drum bekas oli, lakukan perendaman air kapur (1 kg kapur per 200 liter air) selama 7 hari, ganti air setiap 2 hari.
Setelah bersih, isi drum dengan air dan diamkan 24 jam. Jika air tetap jernih dan tidak berbau, drum siap dipakai. Jika masih berbau, ulangi proses dekontaminasi.
Modifikasi Drum untuk Budidaya Belut
Drum 200 liter ideal untuk 100–150 ekor benih belut ukuran 8–10 cm. Beberapa modifikasi penting:
- Lubang pembuangan di bagian bawah (2 cm dari dasar) dengan kran atau pipa PVC 1 inci untuk memudahkan penggantian air.
- Lubang aerasi di bagian atas, cukup 2–3 lubang diameter 1 cm agar sirkulasi udara lancar.
- Media lumpur setinggi 20–30 cm, dicampur pupuk kandang matang dan jerami busuk dengan perbandingan 2:1:1.
- Air di atas lumpur setinggi 5–10 cm, tidak perlu tinggi karena belut bernapas dari udara.
Kesimpulan
Memilih drum bekas untuk budidaya belut bukan sekadar soal harga murah, tetapi soal keamanan residu kimia yang bisa mematikan benih. Prioritaskan drum food grade, lakukan dekontaminasi minimal 7 hari untuk drum bekas oli, dan modifikasi lubang drainase serta aerasi sebelum media dimasukkan. Dengan drum yang bersih dan dimodifikasi benar, budidaya belut di drum bisa produktif hingga panen 3–4 bulan tanpa kendala berarti.